Di tengah sorotan media dan euforia demonstrasi mahasiswa bertajuk Indonesia Gelap 2025, masyarakat mulai bertanya-tanya: apakah ini benar-benar suara rakyat, atau hanya skenario lain dari elite yang berkepentingan? Meskipun aksi ini diklaim murni dari mahasiswa, berbagai kejanggalan mulai muncul ke permukaan.
1. Aktor di Balik Layar: Gerakan Rakyat atau Boneka Politik?
Jika ditelusuri lebih dalam, beberapa tuntutan aksi ini justru sejalan dengan narasi oposisi tertentu, terutama dalam momentum politik menjelang evaluasi kabinet. Banyak pihak mencurigai bahwa mahasiswa sedang digunakan sebagai alat tekanan politik, bukan sebagai penyambung lidah rakyat yang netral. Keberadaan pihak-pihak eksternal yang mendanai logistik aksi juga belum terbuka ke publik—mengapa gerakan mahasiswa bisa begitu rapi, masif, dan seragam secara nasional jika tidak ada koordinasi dari luar?
2. Retorika Lama, Solusi Nihil
Tuntutan seperti “tegakkan hukum”, “hentikan oligarki”, atau “selamatkan demokrasi” adalah slogan yang sudah kita dengar sejak zaman reformasi. Tapi hingga kini, belum ada satu pun bukti konkret bahwa aksi semacam ini berhasil membawa perubahan substansial. Justru, aksi jalanan tanpa arah solusi sering kali menjadi simbol kegagalan dialog dan lemahnya substansi intelektual dari para pelakunya.
3. Mengganggu Rakyat Kecil yang Mereka Bela
Lucunya, mereka yang mengaku “berjuang demi rakyat” justru menghambat rakyat yang sedang bekerja keras mencari nafkah. Kemacetan panjang, operasional publik terganggu, bahkan aktivitas bisnis terganggu. Apakah ini bentuk kepedulian atau justru keegoisan massa yang haus panggung?
4. Tidak Mewakili Semua Mahasiswa
Banyak mahasiswa dari kampus ternama hingga daerah menyatakan ketidaksetujuan mereka. Bahkan beberapa perguruan tinggi menolak keterlibatan dengan BEM SI. Artinya, aksi ini hanya representasi sebagian kecil, bukan seluruh elemen intelektual muda Indonesia. Jika begitu, mengapa mengklaim diri sebagai suara seluruh rakyat dan generasi muda?
5. Disinformasi dan Provokasi di Media Sosial
Pantauan dari beberapa analis media digital menunjukkan bahwa beberapa konten aksi Indonesia Gelap dipenuhi disinformasi—video dipotong, pernyataan diplintir, hingga framing berlebihan terhadap aparat. Semua ini dilakukan demi membentuk opini publik seolah-olah negara sedang dalam darurat besar. Padahal, dalam banyak kasus, kondisi tidak seburuk yang digambarkan.
Aksi protes bukan hal tabu dalam demokrasi, tetapi masyarakat juga berhak tahu siapa sebenarnya yang menggerakkan, dengan tujuan apa, dan siapa yang diuntungkan. Jika gerakan mahasiswa benar-benar ingin perubahan, mereka seharusnya hadir dengan solusi, bukan hanya teriakan. Karena kalau tidak hati-hati, bisa jadi kita sedang bersorak mendukung panggung yang skripnya ditulis oleh mereka yang selama ini kita lawan.
